BLORA, SUARAJATENG – Korban kebakaran sumur minyak ilegal di Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, berharap ada pihak yang bersedia membeli tanah dan bangunannya untuk pindah ke tempat yang lebih aman, setelah anak dan istrinya menjadi korban.
“Kami hanya ingin hidup tenang. Kalau bisa lahan dan rumah seluas kurang lebih 5.000 meter persegi, pihak Pertamina berkenan mengambil alih, agar bisa pindah ke tempat yang lebih aman,” ujar Sukrin, ayah dari balita berinisial AD yang meninggal akibat tragedi kebakaran sumur minyak ilegal di Blora, Jumat.
Tragedi kebakaran sumur minyak ilegal di Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menyisakan duka mendalam bagi Sukrin (42), karena istrinya Yeti (30) dan anak balitanya berinisial AD ikut menjadi korban, dikutip dari https://jateng.antaranews.com
Selama ini, dia mengakui tidak mendapatkan keuntungan dengan adanya sumur minyak ilegal, sehingga berharap bisa pindah dari lokasi tempat tinggalnya yang berdekatan dengan area pengeboran ilegal.
“Kami hanya ingin hidup tenang. Kalau bisa, lahan dan rumah seluas kurang lebih 5.000 meter persegi ini, bisa diambil alih oleh Pertamina, agar saya bisa pindah ke tempat yang lebih aman,” ujarnya.
Ia menegaskan keinginan tersebut bukan hanya untuk mencari keselamatan, tetapi juga demi membuka peluang ekonomi yang lebih tertib dan legal. Jika lahan yang tak jauh dari lokasi ledakan itu dapat dikelola langsung oleh Pertamina, maka aktivitas penambangan minyak bisa berjalan sesuai aturan, memiliki kepastian hukum, serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Selama ini kami tidak mendapat jaminan keamanan dari aktivitas pengeboran ilegal. Kalau Pertamina masuk secara resmi, tentu ada perlindungan keselamatan,” ujarnya.
Sukrin yang sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan mengaku masih terpukul berat setelah kehilangan istri dan anaknya sekaligus.
“Saya tidak pernah menyangka musibah ini akan menimpa keluarga saya. Istri saya pergi duluan, saya masih berharap anak bisa selamat. Tapi ternyata Allah berkehendak lain,” ujarnya.
Sebelumnya, Yeti meninggal dunia saat menjalani perawatan akibat luka bakar serius. Sementara balitanya, AD sempat dirujuk ke rumah sakit di Yogyakarta dan menjalani perawatan intensif, namun nyawanya tidak tertolong setelah berjuang beberapa hari melawan luka bakar parah.
Kasus ini menambah panjang daftar korban jiwa akibat aktivitas pengeboran minyak ilegal di Blora yang telah berlangsung bertahun-tahun. Sementara pihak Pertamina belum memberikan keterangan resmi terkait rencana pembelian lahan warga di sekitar lokasi sumur minyak Gandu.
Dilangsir dari https://jateng.antaranews.com
Foto istimewa
